Monev BRMP Papua: Menjaga Target, Menghadapi Kekeringan
Merauke, 7 September 2026 - Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Papua (BRMP Papua) melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi di BRMP Papua Selatan. Fokus kegiatan meliputi perbenihan padi dan jagung, piloting pertanian modern melalui Advance Agriculture System (PM-AAS), serta pendampingan program strategis Kementan, verifikasi dan validasi CPCL, dan koordinasi pendayagunaan penyuluh pertanian.
Dalam aspek perbenihan, target padi ditetapkan sebanyak 4 ton benih dasar (FS) dan 3 ton benih pokok (SS), sementara jagung ditargetkan 3 ton. Saat ini, padi FS baru akan dipanen akhir September, sedangkan padi SS telah memasuki tahap sertifikasi dengan capaian 3,5 ton. Untuk jagung, penanaman ke-2 tengah berlangsung di Isano Mbias, Tanah Miring. Namun, kekeringan di Merauke membuat pasokan air long storage tidak mencukupi hingga panen. Tim monev menyarankan sebagian kegiatan perbenihan jagung dialihkan ke BRMP Papua Tengah yang memiliki sistem irigasi lebih stabil di Nabire.
Kegiatan piloting PM-AAS seluas 100 hektare di Distrik Kurik sebagian besar telah dipanen dengan hasil meningkat dari 4 ton per/ha menjadi 6–8 ton/ha. Pertanaman rapat dengan populasi lebih tinggi menghasilkan produktivitas lebih baik dibanding sistem tabela. Petani Rohimin dan Sugeng menyampaikan komitmen melanjutkan budidaya PM-AAS, seraya mengapresiasi bantuan saprodi yang cepat sehingga dapat menanam di awal musim kemarau. Petani menekankan perlunya ketersediaan alat tanam drum seeder untuk mendukung keberlanjutan sistem ini di hamparan luas.
Sementara itu, program strategis Kementan dan kegiatan verifikasi serta validasi CPCL yang dikawal melalui pendayagunaan penyuluh telah menunjukkan progres administratif lebih dari 50 persen. Pendampingan tingkat lapangan di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi dan Asmat telah dilaksanakan secara kontinu. Kendala utama yang dihadapi pertanian di Merauke saat ini adalah kekeringan berkepanjangan, sisa air long storage yang semakin menipis dan masuknya air salin diperkirakan tidak mencukupi hingga panen. Kondisi ini menuntut langkah antisipatif dan strategi adaptasi agar target produksi tetap tercapai.